Peluang dan Tantangan Retail Online
WALAUPUN isu keamanan transaksi terus menghantui bisnis online, fakta berbicara bahwa pengguna internet yang mau berbelanja online terus meningkat. Survei yang dilakukan oleh Nielsen pada tahun 2008 lalu, misalnya menunjukkan bahwa 875 juta penduduk dunia telah pernah melakukan belanja online. Angka ini meningkat hingga 40% dari tahun sebelumnya.
Khusus Indonesia, survei yang sama menguak kalau baru 51% responden yang menyatakan pernah menggunakan internet sebagai media belanja. Bandingkan dengna Korea Selatan, misalnya, yang sudah mencapai 99% atau Jepang (97%).
Dikaitkan dengan ke-Indonesia-an, ada yang menarik dari hasil penelitian tersebut, yaitu para netter kita ternyata senang berbelanja pakaian, sepatu dan aksesori (21%), seimbang dengan mereka yang menggunakan internet untuk belanja barang-barang elektronik, dan tidak jauh beda dengan mereka yang belanja video/DVD/games serta piranti lunak computer (20%). Menyusul kemudian adalah pemesanan travel dan hotel (13%),musik (9%),peranti keras komputer (9%), kosmetik dan makanan suplemen (4%), boneka (3%), tiket pertunjukan (3%), peralatan olahraga (3%), suku cadang automotif (1%),barang-barang grosir (1%) Sementara posisi teratas masih dipegang oleh pemesanan tiket pesawat online (40%), disusul buku (37%).
Di sisi lain, lebih dari setengah responden (51%) menyebut situs pencari sebagai alat mereka untuk mencari barang yang mau dibeli.
Apa yang bisa kita pelajari dari data-data di atas? Pertama, masyarakat pengguna internet Indonesia, yang pada tahun 2008 berjumlah 25 juta orang, setengah di antaranya telah pernah melakukan transaksi online. Bila melihat tren di negara-negara lain, persentase pengguna internet yang belanja online bakal terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini tentunya merupakan pasar potensial.
Kedua, para netter Indonesia bersedia untuk belanja produk apa pun di internet, tidak terkecuali kosmetik atau barang grosiran. Di sini yang dibutuhkan adalah kejelian para retailer untuk memenuhi keinginan para netter. Gaya jualan toko tentunya tidak bisa serta merta diterapkan di bisnis online.
Ketiga, peluang para pemain baru untuk masuk ke ranah bisnis online masih terbuka lebar. Kebiasaan sebagian besar pengguna internet Indonesia untuk menggunakan mesin pencari merupakan celah bisnis yang bisa sangat besar. Pada titik ini, para pemain baru sudah sepatutnya menggenjot penggunaan Search Engine Optimization. Hukum yang sama juga berlaku bagi pemain lama bila tidak mau tersalip.
PENELITIAN lain yang dilakukan Harris Interactive tahun ini (2009) di AS dan Inggris memberi masukan penting yang harus menjadi para retailer online. Penelitian yang dilakukan di AS menunjukkan satu dari dua orang yang belanja online mengalami masalah. Masalah yang sama juga dirasakan oleh para netter di Inggris
Mengambil contoh di negara Ratu Elizabeth, ada beberapa masalah yang dialami konsumen ketika berselancar di situs belanja online, yaitu menerima “error messages” (43%), navigasi website yang sulit (34%), kesulitan ketika log in (31%), informasi yang tidak tepat atau membingungkan (29%), tidak bisa menyelesaikan transaksi karena jalan tak berujung (28%) dan fungsi pencarian yang tidak bekerja dengan baik (26%).
Dengan berbagai masalah yang mereka hadapi, 46% di antaranya memilih untuk tidak melakukan transaksi sama sekali, sementara 40% yang lain memilih berpindah ke kompetitor online maupun offline. Notabene, permasalahan memiliki nilai potensial sebesar 11,2 milyar poundsterling.
Walaupun belum ada penelitian yang sama dilakukan di Indonesia, bisa dikatakan persoalan yang sama juga berlaku di sini, malah mungkin lebih parah. Kenapa ini bisa terjadi? Pengamatan saya di beberapa situs belanja online tanah air menjadi bukti. Tidak dapat dipungkuri ratusan situs web belanja online yang bertebaran di jagad maya Indonesia, sebagian besar di antaranya merupaka proyek coba-coba. Kebanyakan retailer kita masih enggan untuk mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk membuat situs web belanja online.
Bahkan para pemain besar pun masih cenderung melihat media online sebagai cost center, bukan sebagai investasi yang bakal menjadi profit center di masa yang akan datang. Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan situs web belanja online tidak akan lebih mahal dari sewa tempat di sebuah pusat perbelanjaan.
Menelisik fenomena yang tengah terjadi, saya yakin bahwa hanya para retailer yang berani investasi dan punya visi jauh ke depanlah yang bakal menjadi pemenang kompetisi retail di masa yang akan datang. Bila tidak, siap-siap saja digilas jaman, cepat atau lambat. ***
nuantero on November 12th 2009 in eCommerce