Tipu Daya Teknologi

ADALAH jamak bila sekarang Anda menemukan sepasang kekasih asyik “bersayang-sayang” di Twitter dan atau pun Facebook. Kelihatan betapa mesra dan romantisnya mereka. Sebagai teman Anda mungkin akan membayangkan bahwa mereka adalah pasangan sejati. Tapi apakah benar demikian?

Seorang teman, suatu malam via messenger menyatakan kepada kekasihnya kalau dia sedang kesepian. Sang kekasih pun dengan segera mengirimkan emoticonbig hug”. Tahu apa yang terjadi? Teman saya itu hanya bisa menangis. Bukan karena bahagia! Yang dia harapkan adalah sang kekasih meneleponnya. Ia ingin mendengar suaranya, ingin memastikan bahwa ia ada di sana untuknya. Akan menjadi kejutan nan romantis bila saat itu sang kekasih tiba-tiba datang menghampirinya, member peluk-cium. Big hug sesungguhnya!

Teman yang lain bercerita tentang seorang lelaki yang sedang dekat dengan dia. Saat ulang tahunnya, lelaki tersebut hanya memberikan ucapan via SMS. Padahal ia berharap sang calon kekasih meneleponnya. “Teman-teman gua aja nelpon, masak dia cuman sms doang!”

Atau mari kita lihat sekeliling kita. Lagi-lagi jamak bila dalam sebuah acara nongkrong bareng teman, misalnya, para pemilik Blackberry asyik dengan BBM-nya. Bahkan ketika sedang berduaan pun, banyak orang lebih suka senyam-senyum kepada BB-nya daripada memberi atensi lebih kepada pasangan. Padahal, memiliki waktu berdua itu adalah barang mewah di tengah kesibukan masing-masing.

Nokia, penyuplai telepon genggam nomor satu di dunia, dalam sebuah siaran persnya di tahun 2000 pernah menyatakan seperti ini: “Dia yang bersama Anda adalah pribadi terpenting untuk Anda ajak bicara”. Penegasan yang tepat sasaran untuk mendukung slogan “connecting people” miliknya. Pada titik ini, Nokia dengan jitu menangkap esensi komunikasi manusia dalam kerangka “mengada-bersama” seperti yang diulas filsuf Martin Heidegger. Berbicara adalah aktivitas utama manusia untuk mengungkapkan pengalamannya, “mengada-bersama” satu sama lain.

Itu sepuluh tahun yang lalu. Kini Nokia sedang getol-getolnya ingin menyaingi messenger-nya Blackberry. Atau lihat pula tawaran-tawaran vendor telepon genggam lain, yang tidak jauh dari akses ke media sosial dan beragam messenger. “Mengada-bersama” yang mewujud dalam percakapan verbal telah digiring kepada “percakapan teks”. Ketika “pengada” tereduksi, makna dibaliknya pun otomatis tergerus, perlahan tapi pasti.

Itulah yang dialami teman saya di atas. Dia bukan sedang iba diri hingga sampai menitikkan air mata. Intimitas komunikasi “mengada-bersama” yang hilang dari relung-relung jalinan kasih merekalah yang diratapinya.

Mungkin sang kekasih sudah merasa cukup dengan hanya menyampaikan emoticon peluk sayang atau teks “love you”, “miss you” dan sejenisnya. Yang dia lupa adalah teks tidak akan pernah bisa menggantikan suara ketika itu berkaitan dengan hubungan personal. Bahkan dalam urusan bisnis sekalipun, terkadang kita harus berbicara langsung dengan teman bisnis, tidak cukup via email atau messenger.

Dalam situasi yang lain, terkadang kita merasa cukup ada secara fisik di hadapan pasangan dan memberi komentar bila merasa diperlukan. Selebihnya asyik “berkencan” dengan telepon genggam kita yang sarat dengan messenger dan media sosial di dalamnya.

Coba Anda ingat-ingat, pernahkah Anda mengatakan “maaf” atau “sebentar ya” terlebih dahulu ketika kencan dengan pasangan karena Anda merasa kelamaan berbalas pesan teks dengan seorang teman atau rekan bisnis? Atau Anda merasa itu sudah biasa saja?

Teknologi dengan canggihnya telah menelusup ke dalam relung-relung kehidupan pribadi manusia yang paling intim. Merusaknya perlahan-lahan, langsung dari inti terdalam. Gairah kasih sayang yang ada dalam komunaksi verbal, perlahan meredup untuk kemudian mati. Kalau sudah begitu, jangan salahkan bila kemudian (calon) pasangan Anda berpaling kepada yang lain. Karena memang hanya segitulah “mengada-bersama” yang bakal Anda tuai.***

No Comments »

nuantero on November 23rd 2010 in Media Sosial

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply