Membaca Arah Bisnis Internet di Indonesia Tahun 2011
Pergantian tahun tinggal hitungan hari. Tahun ini bisnis internet Indonesia diramaikan pemberitaan aksi pembelian saham beberapa situsweb ternama, seperti Koprol, Urbanesia dan Kaskus. Suntikan modal segar ini tentunya diharapkan bakal kian menguatkan cengkraman situs-situs web tersebut di dunia maya.
Ada pula perhelatan yang diharapkan bakal memacu kreatifitas dunia dotcom di tanah air. Bulan November lalu misalnya, diselenggarakan SparX Up Award. Penghargaan ini ditujukan kepada perusahaan-perusahaan start up. Terpilih sebagai pemenang pertama adalah Kartumuu.com, situs yang memungkin user mengirim kartu kepada orang lain dengan gambar dan kata-kata sederhana.
Untuk pertama kalinya juga, majalah SWA menghadirkan penghargaan bertajuk Social Media Award. Penghargaan ini khusus ditujukan kepada produk-produk dan figur publik yang menjadi sorotan di jejaring sosial.
Para pelaku jasa internet juga terlihat berlomba-lomba memberi layanan baru, mulai dari harga akses internet miring hingga bermunculannya dotcom-dotcom baru yang mencoba menyusup di ceruk pasar yang ada, apakah itu pasar lama atau membentuk ceruk pasar baru.
Fenomena di atas menyiratkan bahwa investor asing kian percaya dengan pangsa pasar internet Indonesia yang notabene sekarang sekitar 45 juta orang dan akan terus bertumbuh seiring dengan makin murahnya akses internet. Di sisi lain, optimisme juga merasuk di kalangan para pelaku usaha internet atau pun pebisnis yang mencoba merambah lahan dunia maya sebagai investasi jangka panjang. Catatan di bawah ini akan coba menyoroti arah bisnis internet Indonesia di tahun depan.
1. Social Commerce Semakin Menguat
Tumbuh pesatnya situs jejaring sosial dengan basis komunitas yang kuat menjadi peluang bisnis besar, baik dari sisi pengiklan maupun pengelola situs. Tahun depan, para pengusaha akan menambah porsi belanja iklan mereka ke media-media sosial ini. Terlebih, para pengelola situs jejaring sosial ini terus berbenah diri untuk meraup iklan. Lihat tampilan terbaru facebook, misalnya, yang sangat mengakomodir kemauan pengiklan yang memberikan ruang iklan lebih besar dibanding sebelumnya. Longok pula dealkeren.com yang terlihat semakin banyak dibanjiri promo-promo berbasis komunitas ala Groupon yang sukses besar di AS. Belanja iklan di media sosial bakal mendongkrak kue iklan online tahun depan. Bila tahun ini diperkirakan belanja kue iklan online tidak mencapai 1 persen dari total kue iklan nasional, tahun depan bisa jadi akan menembus angka 2 persen!
Di sisi lain, bermunculannya media-media berbasis komunitas ini, seperti kartumuu.com, yang menang dalam SparX Up Award, masih dihinggapi masalah bagaimana me-monotize bisnis mereka. Berharap pada iklan semata, tentunya, butuh waktu lalu. Mereka harus berpikir untuk menghasilkan “uang instant” langsung dari komunitasnya. Contoh terbaik mungkin bisa berkaca pada situs Lulu.com . Situs besutan luar negeri ini memberikan fasilitas kepada anggotanya untuk memproduksi dan menjual sendiri karangan mereka dan Lulu mendapatkan fee dari para anggotanya.
2. Website Berbasis Aplikasi akan Kian Mendapat Tempat
Pengalaman saya dengan beberapa klien dan calon klien menunjukkan bahwa mulai timbul kesadaran untuk tidak sekadar memiliki website informatif yang berguna bagi pelanggan. Mereka juga mulai berpikir memiliki website yang bisa sekaligus dipakai sebagai marketing tools yang handal. Developer website bakal dituntut untuk memberikan aplikasi-aplikasi sederhana hingga kompleks untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sisi back-end bakal menjadi isu penting.
Ambil contoh, ketika membuat website e-commerce, mereka menginginkan agar mereka juga bisa mengetahui pola perilaku konsumen, mendapatkan data-datanya secara real time cukup hanya dalam satu dua klik. Pengelolaan lalu lintas data konsumen mutlak dibutuhkan. Era situs katalog atau sekadar brosur company profile akan mulai ditinggalkan.
3. Komputasi Awan Masih Akan Jalan Di Tempat
Salah satu topik menarik tahun ini yang menjadi pembicaraan di kalangan praktisi internet selain jejaring sosial adalah komputasi awan (cloud computing). Beberapa vendor kelas dunia terlihat aktif untuk menggarap pasar yang satu ini, mulai Microsoft hingga HP. Ada pula pemain lokal seperti Astra Graphia, Telkom dan Biznet—yang iklan billboard-nya menyebar di beberapa titik jalan utama Jakarta.
Para pemain kelas kakap ini terlihat optimis dengan pasar yang ada. Mereka membidik mulai dari pasar korporat besar hingga ukuran kecil menengah. Microsoft dan HP malah menggadang-gadang kalau masalah bandwith di Indonesia yang masih mungil, tidak akan menjadi masalah. Bisa jadi memang demikian. Tapi, ini Indonesia, Bung. Susah untuk meyakinkan para pelaku bisnis dalam urusan yang satu ini. Belum lagi masalah keamanan data mereka. Sejauh mana data-data itu tidak akan dipakai pihak lain; bagaimana kalau tiba-tiba data hilang, apakah ada sistem back up yang memadai?
Perkiraan saya, komputasi awan baru akan menjadi tren tiga-empat tahun mendatang, ketika bandwith sudah semakin lebar dan murah, seiring dengan kompetisi di antara para penyedia layanan internet; ketika beberapa perusahaan besar lokal telah membuktikan kehandalan komputasi ini dan mendapat ekspos besar dari media. Pasar Indonesia masih membutuhkan waktu lama untuk belajar dan cepat tidaknya pembelajaran tersebut akan ditentukan agresifitas marketing para vendor.
4. Bersaing melalui Strategi Konten
Tahun depan, tren media cetak yang ingin memiliki versi onlinenya masih akan terus berlanjut. Ada keuntungan tersendiri yang mereka miliki, yaitu captive market. Ini yang membedakannya dengan media berita online yang tidak punya basis pembaca media cetak sama sekali. Tapi itu bukan berarti versi online media cetak otomatis akan lebih banyak pembacanya dari media berita online murni di kategori yang sama. Bukti yang paling sahih misalnya adalah kompas.com yang hingga kini belum juga bisa mengatasi jumlah pengakses detik.com. Pada titik inilah, para pemilik situs bersangkutan membutuhkan strategi konten yang tepat sasaran.
Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan sebuah tabloid yang ingin membenahi versi online mereka. Melihat versi online yang ada, saya tidak heran bila pengunjungnya tidak seperti diharapkan. Isinya hanyalah copy-paste dari versi cetaknya. Tidak ada yang baru di sana, tampilan pun terkesan seadanya. Padahal ketika saya dalami konten tabloid tersebut, saya melihat ada sebuah pasar besar di dunia maya yang telah menunggu kehadiran mereka. Pasar yang selama ini belum ada yang menggarap sama sekali. Tanpa strategi yang tepat, peluang besar ini mungkin akan diambil oleh pihak lain.
Pada kesempatan lain, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang teman tentang bisnis media berita online tempatnya bekerja yang fokus ke berita-berita hukum dan politik. Berdasarkan survei terakhir, kedua hal ini masuk dalam tiga besar informasi yang diinginkan pembaca. Tapi, mengapa situs berita tersebut kurang berkembang? Lagi-lagi, ini masalah strategi konten.
Apa saja yang dimaksud dengan strategi konten ini? Satu yang utama adalah bagaimana supaya berita-berita yang ada mudah ditemukan via mesin pencari. Kedua, kualitas konten. Kecepatan berita harus tetap diiringi akurasi dan tata bahasa yang baik dan benar. Ketiga, desain yang menarik dan “ngangenin”—memanjakan mata pembaca sehingga ingin kembali dan kembali lagi. Last but not least, diffrensiasi konten dari kompetitor. Tanpa adanya perbedaan informasi yang signifikan, pembaca akan tetap kembali ke selera asalnya. Di tahun 2011, strategi konten ini akan menjadi pekerjaan besar bagi para pelaku media online bila ingin tetap bisa bersaing di rimba-raya-maya.
5. “Monotize” Tetap Menjadi Masalah Utama
Seperti telah disinggung sebelumnya, me-monotize bisnis online bakal masih tetap menjadi isu utama tahun depan. Semua orang bisa melihat kalau bisnis dotcom merupakan lahan yang menjanjikan seiring dengan terus bertumbuhnya jumlah pengguna internet di Indonesia. (Hingga pertengahan tahun ini saja, diperkirakan jumlahnya telah mencapai 45 juta orang.) Yang menjadi masalah utama adalah bagaimana menghasilkan uang dari bisnis dotcom tersebut. Ada yang percaya bahwa seiring dengan bertambahnya jumlah pengunjung, pengiklan akan datang dengan sendirinya. Namun kenyataan berkata lain, media miliknya tetap sepi iklan, walau telah digedor dengan harga diskon habis-habisan.
Tidak aneh jadinya kalau kita melihat bahkan situs-situs papan atas masih menempelkan adsense atau adwords google untuk menambal ruang iklan yang kosong.
Kecilnya kue iklan online di Indonesia ini sebenarnya bukanlah pekerjaan rumah pemilik media semata. Dibutuhkan sinergi antara pemilik media dan biro iklan untuk mengedukasi para pengiklan dan memberikan mereka solusi menarik. Indonesia telah ketinggalan dari negara-negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, belanja iklan online telah mencapai dua digit, sementara di Indonesia menyentuh angka persen pun belum. Namun, menurut hemat saya, tahun depan ada kemungkinan belanja iklan online ini bisa mencapai 2 persen. Tapi, ini akan berpulang kepada para pemilik media dalam menerapkan strategi konten dan kemauan besar dari para biro iklan meyakinkan para pengiklannya. ***
nuantero on December 30th 2010 in Media Sosial, Strategi Marketing