Hati-Hati dengan Cara Anda Berpromo di Jejaring Sosial!

Daripada  beriklan di Facebook yang harganya bisa sampai ratusan juta rupiah, kebanyakan perusahaan memilih untuk memiliki fan page.  Cara ini dianggap lebih murah dan efektif untuk menarik perhatian target pasar. Namun, dalam kenyataannya, kita melihat hanya segelintir fan page perusahaan yang sukses meraup atensi facebookers.  Jauh lebih sukses fan page selebriti, misalnya, yang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk jasa pihak ketiga mengelolanya, bahkan dalam berbagai kasus bisa meraup duit dari pengiklan.

Kenapa facebookers  memilih untuk keluar  fan page perusahaan atau produk tertentu?  Atau para tweeps yang memilih untuk meng-unfollowr  account  twitter sebuah perusaahan atau produk? Sebuah riset terbaru yang dilakukan ExactTarget-CoTweet memberi kita gambaran yang relatif gamblang.

Ada lima alasan utama kenapa netter memilih untuk meninggalkan fan page sebuah brand tertentu. Empat puluh empat persen di antaranya menyatakan karena  mendapatkan terlalu banyak postingan yang mereka dapat.  Kedua, wall mereka menjadi terlalu dijejali muatan marketing (43%). Alasan lain adalah pesan yang hanya mengulang-ulang dan membosankan (38%),  postingan yang sangat sarat muatan promosi (24%) dan yang terakhir, content yang sudah tidak relevan dari awal (19%)





Alasan tidak jauh berbeda juga diungkapkan oleh para pengguna jejaring sosial twitter.  Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 1.561 netter di USA yang berumur di atas 15 tahun ini, terungkap kalau 52% tweeps memilih untuk meng-unfollow akun brand tertentu karena pesan yang berulang dan membosankan. Berada di urutan kedua adalah karena tweet yang didapat terlalu berbau marketing (41%) dan tweet tersebut terlau sering diposting (39%). Urutan berikutnya adalah karena mereka merasa tweets yang ada sangat sarat promosi (21%) dan malah ada yang sejak dari awal kontennya sudah tidak relevan (15%)

Berkaitan dengan alasan-alasan di atas, para marketer sebaiknya memperhatikan kebiasaan para pengguna jejaring sosial ini. Anda tidak perlu harus sering memposting, cukup dua kali sehari, misalnya. Tapi pilihlah waktu yang tepat, sehingga posting Anda dibaca lebih banyak audience. Rata-rata facebooker, misalnya akan membuka akun mereka di pagi hari, jam istirahat siang dan sore hari. Anda tinggal pilih dua di antara tiga waktu ini.

Kalau memang Anda tidak ada materi untuk dipromosikan, jangan terlau memaksakan diri dengan memposting hal yang sama. Cobalah untuk kreatif. Tidak melakukan posting satu dua hari tidak akan membuat para penggemar Anda kabur. Tapi jangan pula tidak mengupdate account Anda hingga seminggu lamanya.

Memposting sesuatu di fan page tidaklah harus selalu berkaitan dengan produk Anda. Anda bisa saja berbagi informasi dengan penggemar, dengan catatan informasi tersebut sebaiknya tidak punya potensi untuk mengundang kontroversi. Bila produk Anda, susu, misalnya, tidak ada salahnya Anda berbagi informasi tentang hasil penelitian terakhir tentang manfaat susu. Tidak  perlu harus mengaitkan langsung dengan produk Anda.

Oh iya, survei tersebut juga memberikan kabar baik kepada para marketer. Ternyata lebih dari seperempatnya merupakan netter tipe deal seeker. Mereka akan senang bila di fan page brand yang mereka ikuti mendapatkan penawaran-penawaran khusus yang menarik. Hal ini diamini oleh 26% facebookers dan 27% tweeps.  Tapi bila “insentif” ini tidak ada, mereka cenderung memilih untuk keluar. Sekarang tinggal tugas Anda para marketer untuk tetap proaktif dan kreatif menjaring mereka. (Daniel Siburian, daniel@nuantero.com)

No Comments »

admin on February 18th 2011 in Media Sosial, Strategi Marketing

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply